Orang Baduy Jualan Madu di Universitas Indonesia

Mengenakan kemeja polos berwarna hitam dipadu dengan dalaman yang juga kemeja polos namun berwarna putih, bercelana ‘gantung’ sebatas lutut dan mengenakan ikat kepala berupa kain polos berwarna hitam. Sesosok pria berperawakan kurus berjalan tanpa alas kaki dibawah rindangnya pepohonan halaman Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU) Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat.

Hari masih pagi, waktu belum menunjukan jam delamapn. Sosok pria yang penampilannya jelas beda dengan para pengunjung lainnya di Kampus UI ini kemudian menghampiriku. “Mau beli madu pak?” katanya sambil menyodorkan sebuah botol yang berisi cairan berwarna kuning pekat, kental dan berbuih.

“Madu dari mana?” aku tidak menjawab mau atau tidak, tapi malah balik bertanya.

Ieu madu baduy, asli” kali ini ia bicara dalam bahasa sunda, pria itu kemudian duduk disampingku.

Tidak salah lagi, dari ciri-cirinya sejak tadi aku sudah menduga bahwa pria ini orang Baduy. Aku jadi tertarik untuk mengajaknya mengobrol. Aku meraih botol madu yang diletakan diantara tempat duduk kami, lalu aku mencoba memiringkannya. “Kental sekali madunya ya” kataku.

Enya, ieu asli meunang ngala ti leuweung. Iya, ini asli kami mengambilnya dari dalam hutan” lagi-lagi ia ngomong dalam bahasa sunda. Hal ini membuat bahasa sundaku yang sudah lama tidak terpakai keluar juga, karena walaupun ibu-bapakku sunda, tapi sejak kecil aku sudah tinggal di Sumatera. Akhirnya kami pun mengobrol dalam bahasa sunda walaupun agak sedikit beda ‘aliran’, maklum sundaku berasal dari Garut sedangkan dia dari Banten.

“Bapak ngambil dari hutan mana?”

“Dari Gunung” jawabnya pendek.

Karena jawaban bapak itu pendek-pendek aku jadi bertanya seperti seorang penyidik yang sedang meninterograsi. Dari hasil ‘interogasiku’ kemudian diketahui bahwa bapak itu bernama Armin. Dia berasal dari kampung Ciboleger – Rangkas Bitung. Konon katanya untuk sampai ke Kampus UI ia harus berjalan kaki selama 7 hari.

“Saya baru sampai malam tadi, lalu menginap di Pos Satpam” ujar Armin.

Armin mengatakan, bahwa ia hampir rutin setiap tiga bulan menjual madu di Kampus UI. “Makanya para satpam di pos itu sudah kenal saya” katanya.

Setiap kali datang ke kampus UI ia membawa 10 botol madu. Botol yang digunakan untuk kemasan madunya adalah botol sirup ukuran 800 ml (600ml -pen). Ia menjual madu dengan harga Rp. 75.000 per botol. Armin tidak sendirian, ia datang ke Kampus UI ditemani putranya yang masih remaja. Putra Armin sepertinya seorang yang pemalu, ia hanya diam dan duduk saja dibawah sebuah pohon yang tak jauh dari tempat kami mengobrol.

“Saya sudah tua, lutut saya sudah sering sakit. Makanya untuk membawa madu-madu ini saya harus dibantu oleh anak saya” ujar Armin. Armin sendiri tetap membawa tiga botol madu yang ia bawa menggunakan tas rajut.

“Kalau memang sudah nggak sanggup, kenapa harus jauh-jauh menjual madu sampai ke Kampus UI?” tanyaku.

Sakalian nempo paduluran. Sekalian menjenguk saudara” katanya.

Sebenarnya saya agak ragu dengan makna padaluran atau saudara yang ia katakan. Apakah yang dimaksud adalah saudara kandung, saudara angkat, sahabat, atau seseorang yang memiliki hubungan emosional tertentu, sehingga ia mengkategorikannya sebagai saudara.

Namun saya tidak tertarik untuk menanyakan lebih lanjut tentang makna tersebut. Saya lebih tertarik menanyakan kondisi hutan tempat mereka mengambil madu, dan aktivitas sehari-hari masyarakat di kampungnya.

Konon katanya hutan mereka letaknya di daerah pegunungan, kondisinya masih sangat bagus, jenis binatangnya bermacam-macam. Bahkan untuk jenis burung, konon katanya ragam spesiesnya masih tergolong lengkap.

Leuweungna mah alus keneh tapi jauh di gunung, sasatoan loba, komo manukmah maceum-maceum” katanya.

Untuk aktivitas sehari-hari, masyarakat di kampung melakukan budaya bercocok tanam. Pisang dan ubi adalah tanaman yang biasa mereka budidayakan.

“Pisang dan ubi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami” ujar Armin.

Armin mengeluarkan bungkus rokok dari kantong bajunya, ia pun mengeluarkan korek api bersiap menyulut rokoknya. Namun sebelum ia menyulut rokoknya, mata Armin tajam menatap sekeliling seperti sedang menyelidik. “Apakah bapak merokok? Dan bolehkah saya merokok disini?” tanyanya tiba-tiba.

“Saya tidak tahu. Saya orang baru disini dan saya tidak merokok” jawabku.

Mendengar jawabanku, ia batal menyulut rokoknya. Bagiku ini bukan masalah rokok, boleh dan tidak. Tapi dia yang datang dari jauh disana, cukup kritis dalam menganalisa kondisi sekitar dan menghargai budaya setempat. Dia mungkin berpikir ditempat ini dilarang merokok, jadi diapun menghargainya dengan tidak merokok.

Perbincangan kami tiba-tiba sedikit terhambat ketika aku mengeluarkan sebuah benda dari dalam tas. Tiba-tiba Armin memalingkan wajah, ia tampak risih dan terlihat tak nyaman.

Aku menduga ia tak nyaman dengan benda yang aku keluarkan. Walaupun benda itu masih terbungkus sarungnya, tapi sepertinya Armin tahu kalau benda yang aku keluarkan adalah kamera. Aku jadi penasaran, apakah ia memang tidak suka dengan kehadiran kamera, seperti yang sering aku temui dengan perempuan dewasa Orang Rimba di Jambi.

“Boleh saya foto?” untuk menghilangkan rasa penasaran, aku langsung bertanya to the point.

Ulah ah ulah…! Jangan ‘please’…!” ujarnya dengan wajah cemas.

“Kenapa?”

Geus agama wiwitanna kitu. Itu adalah ajaran agama nenek moyang kami” jawabnya dengan raut muka yang sedikit cemas. “Begini saja pak, kalau bapak mau beli madu kami, ambil saja dengan harga 60 ribu. Ini penglaris” lanjutnya.

“Ya udahlah, biar laris saya beli madunya.” Aku pun mengeluarkan tiga lembar uang pecahan 20 ribuan dan memberikannya pada Armin.

Nuhun pak. Terima kasih” Armin menerima uangnya kemudian bergegas pergi.

“Sama-sama. Semoga jualannya laris” sahutku melepas kepergian Armin sekaligus mengakhiri perbincangan kami dengan sebuah transaksi.

Sumber: Fredi Yusuf, Penulis di Kompasiana [dot] com
Sumber Gambar: Fredi Yusuf, Kompasiana [dot] com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *